Kader Partai Gerindra Ini Menangis, Terpilih tapi Dipecat H-1 Jelang Pelantikan DPRD Sulsel

Kader Partai Gerindra menangis menceritakan kisahnya yang dipecat H-1 jelang pelantikan DPRD, padahal ia terpilih.

KOMPAS.COM/FITRIA CHUSNA FARISA
Mantan calon anggota legislatif dari Partai Gerindra, Misriyani Ilyas dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (28/10/2019). 

Sebab, Ketua DPD Partai Gerindra pun mengaku, tidak dimintai klarifikasi atas pemberhentian Misriyani Ilyas.

Misriyani Ilyas lantas berusaha melakukan klarifikasi kepada DPP Partai Gerindra.

Ia juga meminta DPP mencabut pemberhentian dirinya.

Namun, hingga saat ini, upayanya belum membuahkan apapun.

Misriyani percaya bahwa peristiwa ini bukan ulah Partai Gerindra.

Ia meyakini bahwa ada oknum yang mengatasnamakan partai yang ingin menjegal dirinya.

"Jadi tolong digarisbawahi, ini bukan Partai Gerindra yang melakukan. Tapi saya yakin yang melakukan ini adalah oknum yang menginginkan kelompoknya yang berada di sini," kata Misriyani Ilyas sambil menangis lagi.

Caleg Terpilih PDIP Juga Dipecat

Caleg terpilih bernasib memilukan juga ada di dalam PDI Perjuangan atau PDIP.

Seorang bernama Novianus YL Patanduk, Caleg DPRD Sulawesi Selatan dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan II juga dipecat oleh partai jelang dilantik.

Novianus YL Patanduk dan Misriani Ilyas senasib dan sedaerah pemilihan.

Dia sedang berjuang agar keputusan partai tersebut dibatalkan.

"Saya berharap Ibu Ketua Umum (Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri) dan jajaran pusat untuk bisa melihat dan mempertimbangkam kembali SK pemberhentian (sebagai kader PDIP) saya," ujar peraih 4.305 suara ini.

Ketua Bidang Kehormatan DPD PDIP Sulawesi Selatan, Andi Anshari Mangkona mengatakan, pemecatan Novianus YL Patanduk sebagai kader PDIP didasari sejumlah alasan dan bukti.

Novianus YL Patanduk
Novianus YL Patanduk (TRIBUN TIMUR/ABDUL AZIS)

"Semua melalui proses panjang, melalui mekanisme partai, melalui proses di dewan kehormatan sebelum surat pemecatannya keluar," kata Andi Anshari Mangkona kepada Tribun-Timur.com, Senin (16/9/2019).

Novianus YL Patanduk menyampaikan, alasan dirinya dipecat lantaran telat membayar uang saksi pada hari pemungutan suara, 17 April 2019, senilai Rp 20 juta.

"Kita di PDIP, namanya dana gotong royong, itu kami tidak membayar sesuai waktu yang telah ditentukan. Memang secara logika bahwa pembayaran dana gotong royong tidak sesuai batas waktu ditentukan," ujarnya.

Novianus YL Patanduk baru melakukan pembayaran dana gotong royong setelah proses pemungutan suara dari seharusnya pada hari H.

Pembayarannya kemudian ditolak dengan alasan terlambat.

Baca: Tak Dipilih Jokowi untuk Jadi Menteri, Ini Jatah Jabatan Yusril Ihza Mahendra, akan Ada Lembaga Baru

Baca: Ashanty Ungkap Pernah Usir Aurel dari Rumah karena Melawannya, Anang Hanya Diam: Aku Mati Kutu

"Saat itu saya fokus bagaimana dapat meraih suara. Setelah pemilihan baru saya mencoba mencari dana ke teman-teman dan ada terkumpul sedikit untuk saya berikan. Namun pada saat itu partai bilang lambat," ujarnya.

Ikuti kami di
KOMENTAR
14 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved