Museum Fatahillah

Museum Fatahillah dikenal juga dengan sebutan Museum Sejarah Jakarta. Banyak cerita mengiringi gedung peninggalan VOC itu.

Editor: Yogi Gustaman
TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Museum Kesejarahan Jakarta atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah yang berada di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, TAMAN SARI - Museum Fatahillah dikenal juga dengan sebutan Museum Sejarah Jakarta. 

Gedung bersejarah ini terletak di kawasan Kota Tua, Jalan Taman Fatahillah nomor 1 Jakarta Barat.

Dahulu, gedung ini didirikan sebagai Balai Kota Batavia pada masa pemerintahan VOC tahun 1707 sampai 1710.

Gedung ini sempat beralih fungsi sebagai markas Dai Nippon Jepang pada masa kedudukan Jepang.

Gubernur Ali Sadikin akhirnya meresmikan gedung ini sebagai Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974.

Sejarah cukup panjang mengiringi Museum Sejarah Jakarta ini.

Pada 13 November 1596, rombongan kapal VOC pertama merapat di Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kala itu, Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten.

Di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen atau JP Coen, VOC menyerang Keraton Pangeran Jayakarta dan menghancurkan Keraton tersebut pada 30 Mei 1619.

Kemudian, mengubah nama Jayakarta menjadi kota Batavia.

Berdasarkan catatan Museum Sejarah Jakarta, Kota Batavia berada pada masa kejayaan pada awal abad ke 18 sehingga mendapat julukan ratu dari timur.

Bukti kejayaan tersebut dapat dilihat pada beberapa bangunan tua bersejarah yang kini masih ada.

Salah satunya adalah Museum Sejarah Jakarta yang dulunya berfungsi sebagai Balaikota ini.

Selain sebagai kantor administrasi, dahulu gedung ini juga digunakan sebagai dewan pengadilan.

Balai kota Batavia ini juga memiliki penjara bawah tanah untuk para tahanan.

Seperti umumnya bangunan eropa, gedung ini terlihat klasik dan kokoh dengan beberapa bagian.

Di antaranya terdapat dua sayap di timur dan barat.

Serta sebuah menara yang terlihat menonjol di bagian tengah-tengah atas gedung.

Pada pemerintahan Inggris tahun 1811 hingga 1815, dipasang sebuah jam besar pada dinding luar menara yang dapat disaksikan oleh seluruh masyarakat.

Sekarang jam itu tidak berfungsi dan hanya tersisa mesinnya saja pada bagian menara.

Selain itu, menara ini juga menjadi lokasi pembunyian lonceng besar yang dijuluki sebagai lonceng kematian.

Apabila lonceng dibunyikan sebanyak 3 kali, maka artinya akan ada tahanan yang dieksekusi mati.

Peta

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved