Museum Joang 45

Museum Joang 45 adalah salah satu gedung yang menyimpan banyak sejarah para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Editor: Yogi Gustaman
TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Tampak depan Gedung Joang 45. Gedung bersejarah ini berada di Jalan Menteng Raya nomor 31, Kebon Sirih, Jakarta Pusat. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, KEBON SIRIH - Jakarta punya banyak cerita dan tempat yang merekam jejak-jejak peninggalan para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Museum Joang 45 salah satunya. Gedung ini menyimpan banyak sejarah dan koleksi yang sampai sekarang tetap terawat.

Terletak di Jalan Menteng Raya Nomor 31, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Museum Joang 45 adalah saksi bisu kebangkitan dan perjuangan rakyat melawan penjajah.

Gedung ini pun diresmikan oleh Presiden ke-2 Republik Indonesia Suharto sebagai Museum Joang 45 pada 19 Agustus 1974.

Sejarah

Pertama kali dibangun, gedung ini pada mulanya merupakan bangunan hotel mewah milik seorang pengusaha berkebangsaan Belanda yang tinggal di Batavia.

Pada tahun 1926, Batavia di bawah pemerintahan Hindia Belanda merupakan salah satu kota dengan penduduk yang cukup padat.

Hingga pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mencari sebuah kawasan yang cukup luas untuk dijadikan pemukiman elite bagi orang-orang Belanda saat itu.

Pengusaha berkebangsaan Belanda bernama LC Schomper membangun sebuah hotel megah di kawasan yang kini dikenal dengan Jalan Menteng Raya.

Sesuai namanya, hotel tersebut bernama Schomper 1.

Lantaran kemegahannya, pada tahun 1930 an hotel ini hanya dikhususkan bagi petinggi-petinggi atau pejabat Belanda, serta pengusaha-pengusaha besar.

Kemewahan hotel bisa terlihat dari sisi arsitektur bangunan dengan lantai dari marmer serta pilar-pilarnya yang begitu besar dan megah.

Terdapat beberapa bangunan kamar di sisi samping gedung utama.

Kala itu, hotel ini menjadi hotel yang sangat megah dan digemari bagi para pejabat Belanda di Batavia.

Beberapa tahun setelah hotel ini berjalan, Jepang berhasil menguasai Batavia.

Hingga seluruh bangunan yang dikuasai oleh Belanda, akhirnya diambil alih oleh Jepang.

Hotel ini pun diubah menjadi Asrama Angkatan Baru Indonesia yaitu tempat pendidikan politik bagi pemuda Indonesia oleh Jepang.

Tujuannya, sebenarnya untuk menjadikan pemuda Indonesia sebagai kader yang membantu pertahanan Jepang.

Ir. Soekarno, dan Moh. Hatta, dan beberapa tokoh perjuangan lainnya ikut terlibat dalam pendidikan politik tersebut.

Secara diam-diam, para pengajar memberi pendidikan politik dengan menanamkan cita-cita kemerdekaan Indonesia kepada para pemuda.

Hingga pada akhirnya, Jepang pun mengetahui dan asrama ini dibubarkan.

Gedung ini pun sempat dialih fungsikan untuk beberapa kegiatan.

Sehingga pada tahun 1974 gedung ini akhirnya diresmikan sebagai Museum Joang 45 oleh Presiden Suharto.

Koleksi

Museum ini memiliki banyak koleksi peninggalan para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Salah satunya, adalah mobil dinas pertama pemerintahan Indonesia yang mengantarkan Presiden pertama Ir. Soekarno mengemban tugas kenegaraannya.

Mobil tersebut adalah mobil sedan Limosin merk Buick buatan Amerika tahun 1939.

Dengan pelat REP-1 yang artinya, adalah Republik 1, atau sama dengan RI 1 pada masanya.

Mobil RI 1 yang dipakai Presiden Ir Sukarno. Kini mobil tersebut menjadi koleksi di Museum Joang 45, Jalan Menteng Raya nomor 31, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Mobil RI 1 yang dipakai Presiden Ir Sukarno. Kini mobil tersebut menjadi koleksi di Museum Joang 45, Jalan Menteng Raya nomor 31, Kebon Sirih, Jakarta Pusat. (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Mobil ini mulanya milik Departemen Perhubungan Bangsa Jepang.

Mobil ini didapatkan oleh salah satu sahabat Soekarno yakni Sudiro dari seorang sopir pejabat Departemen Perhubungan Jepang pada masa itu.

Mobil ini, merupakan mobil paling bagus yang ada di Jakarta pada tahun 1945.

Ketika didekati oleh Sudiro, sopir mobil tersebut sedang duduk di sekitar mobilnya.

Kemudian, Sudiro meminta mobil tersebut secara diplomasi.

Mobil itu kemudian dibawa ke Pegangsaan Timur Nomor 56 untuk diserahkan kepada Sukarno.

Presiden Sukarno kerap menggunakan mobil ini ketika menjalankan tugasnya.

Pada saat pusat pemerintahan RI pindah ke Yogyakarta, mobil ini juga sempat dibawa.

Hingga pada akhirnya mobil ini diserahkan oleh Kepala Rumah Tangga Presiden kepada Dewan Harian Nasional 45 untuk dijadikan koleksi Museum Joang 45 pada tanggal 19 Mei 1979.

Mobil ini turut dipamerkan bersama dengan mobil REP-2, yakni mobil dinas yang digunakan Moh Hatta untuk menjalankan tugas kenegaraannya di awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Mobil RI 2 yang dipakai Wakil Presiden Moh Hatta. Kini mobil tersebut bersama Mobil RI 1 yang dipakai Presiden Ir Sukarno menjadi koleksi di Museum Joang 45, Jalan Menteng Raya nomor 31, Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Mobil RI 2 yang dipakai Wakil Presiden Moh Hatta. Kini mobil tersebut bersama Mobil RI 1 yang dipakai Presiden Ir Sukarno menjadi koleksi di Museum Joang 45, Jalan Menteng Raya nomor 31, Kebon Sirih, Jakarta Pusat. (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Adapula mobil yang dikenal dengan Mobil Peristiwa Cikini.

Mobil ini, merupakan saksi bisu dari percobaan pembunuhan yang dilakukan terhadap Presiden Sukarno pada tahun 1957 silam.

Kala itu, terjadi peristiwa ledakan granat dengan menewaskan 9 orang, dan 55 orang luka-luka.

Termasuk di dalamnya pegawai Presiden Soekarno dan beberapa murid Perguruan Cikini.

Harga Tiket Masuk

Dewasa Rp 5000

Mahasiswa Rp 3000

Pelajar Rp 2000

Jam Operasional

Senin tutup

Selasa-Minggu pukul 8.00 WIB - 16.00 WIB.

Transportasi Umum

KRL - Melalui akses Stasiun Gondangdia

Transjakarta

Transjakarta - Akses Halte Kwitang, Jalur koridor 3, Harmoni-Pulogadung.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved