5 Patung Terkenal di Monumen Nasional

Monumen Nasional (Monas) salah satu destinasi wisata warga ibu kota dan luar daerah karena menjadi saksi sejarah.

Editor: Yogi Gustaman
TRIBUNJAKARTA.COM/Muhammad Rizki Hidayat
Monumen IKADA di kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Muhammad Rizki Hidayat

TRIBUNJAKARTA.COM, GAMBIR - Monumen Nasional (Monas) salah satu destinasi wisata warga ibu kota dan luar daerah karena menjadi saksi sejarah.

Tapi, pengunjung harus tahu di sana ada lima patung fenomenal.

Ini bukan sekadar patung, yuk tengok sosok dan sejarahnya.

Chairil Anwar

Patung Chairil Anwar, di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020).
Patung Chairil Anwar, di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT)

Chairil Anwar terkenap sebagai penyair Angkatan 45.

Patuh wajah pria kelahiran 26 Juli 1922 ini seolah menatap ke langit dan di seberangnya Istana Merdeka.

Tatapan matanya tajam, menusuk.

"Mampus kau dikoyak-koyak sepi," begitulah satu di antara karya puisi Chairil Anwar yang mendunia.

Sang pujangga wafat pada 28 April 1949.

Letak patung Chairil Anwar berada di sisi utara kawasan Monas.

Pangeran Diponegoro

Patung Pangeran Diponegoro di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020).
Patung Pangeran Diponegoro di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT)

Berbeda dengan Chairil Anwar, patung Pangeran Diponegoro utuh.

Ia tampak sedang menunggangi kuda yang mengangkat kaki depananya.

Patung Pangeran Diponegoro sedang berkuda tampak jelas terlihat di sisi utara Monas.

Sang pematung menggambarkan Pangeran Diponegoro sedang menghunuskan pedang, kepalanya memakai sorban dan jubahnya berkibar.

Patung Pangeran Diponegoro ini dipahat seniman asal Italia, Dr Mario Pitta, sebagai penggagas dan Cobertaldo, selaku pemahat.

Pangeran Diponegoro lahir pada 11 November 1785 dan wafat 8 Januari 1855.

Mohammad Husni Thamrin

Patung Mohammad Husni Thamrin  di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020).
Patung Mohammad Husni Thamrin di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT)

Jalan MH Thamrin yang terletak di Jakarta Pusat diambil dari nama Pahlawan Nasional, Mohammad Husni Thamrin.

Patung ini dibuat oleh Arsono, pematung dari Sanggar ARSTUPA Jakarta.

Patung MH Thamrin diresmikan pada 11 Januari 1982.

Orang mengenal sosok MH Thamrin sebagai tokoh Betawi yang lahir di Jakarta pada 16 Februari 1894.

Sang pematung menampilkan MH Thamrin sedang mengenakan peci, jas, dan dasinya.

Ini gaya khas keseharian MH Thamrin semasa hidup.

IKADA

Monumen IKADA di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020).
Monumen IKADA di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT)

Berbeda dengan tiga patung di atas, patung keempat di Monas ini berupa sekumpulan pria.

Pria-pria ini tengah memegang tiang bambu dengan bendera merah putih di puncaknya.

Itu adalah patung monumen IKADA yang terletak di sisi Selatan Monas.

Menukil berbagai sumber, patung pria ini merepresentasikan pemuda yang bersikap berani, optimistis, dengan membawa bendera Merah Putih.

Patung IKADA ini hasil tangan Sunaryo, pematung termasyhur sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB).

Hasil karyanya ini rampung dibikin pada 1 Februari 1988.

Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 19 September 1987.

Patung IKADA diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto, pada 20 Mei 1988.

Raden Ajeng Kartini

Patung Raden Ajeng Kartini, di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020).
Patung Raden Ajeng Kartini, di kawasan Monas Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/MUHAMMAD RIZKI HIDAYAT)

Sosok Raden Ajeng Kartini merepresentasikan wanita pun dapat menjadi pahlawan, tak kalah dari laki-laki.

Patung pahlawan nasional ini berada di sisi timur Monas mengarah ke Stasiun Gambir.

Menyoal RA Kartini, kita paling ingat dengan kalimat, "Habis Gelap Terbitlah Terang."

Habis Gelap Terbitlah Terang adalah buku kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini.

Kumpulan surat tersebut dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul, "Door Duisternis Tot Licht." 

Terdapat tiga patung RA Kartini dengan pose berbeda-beda.

Di dekat sana tertulis huruf kanji di bagian belakang beserta ejaan lama di bagian depan.

"Dipersembahkan sebagai lambang persahabatan antara bangsa Indonesia dan Djepang," begitu bunyinya.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved