Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat

Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat memiliki banyak spot foto menarik. Di sana kamu bisa mendapatkan pengetahuan tentang sejarah Jakarta dulu.

Editor: Yogi Gustaman
TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana
Museum Taman Prasasti di Jalan Tanah Abang I Nomor 1 RT 11/8 Petojo, Jakarta Pusat. Museum ini persis di sebelah kantor Wali Kota Jakarta Pusat. 

Laporan wartawan TribunJakarta.com, Pebby Adhe Liana

TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Berwisata ke pantai atau taman bermain sudah biasa.

Bagi kamu yang ingin rekreasi unik dan berbeda, bisa datang ke Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

Selain memiliki banyak spot foto menarik, kamu bisa mendapatkan pengetahuan tentang sejarah Jakarta di masa lampau.

Biar enggak penasaran, kita simak ulasannya yuk.

Wisata dan Peta Lokasi

Museum Taman Prasasti merupakan museum peninggalan masa kolonial Belanda.

Berada di Jalan Tanah Abang I Nomor 1 RT 11/8 Petojo, Jakarta Pusat, museum ini berada persis di sebelah kantor Wali Kota Jakarta Pusat.

Terdapat beberapa nisan kuno bergaya Eropa, menjadi koleksi museum.

Saat memasuki area taman, kamu seperti terasa ada di negara Eropa masa lampau.

Lokasi ini seringkali digunakan sebagai spot berfoto yang unik oleh para wisatawan.

Sejarah

Salah satu koleksi di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat.
Salah satu koleksi di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Museum Taman Prasasti, menyimpan banyak cerita masa lalu tentang sejarah Ibu Kota Jakarta.

Jakarta yang dulu dikenal dengan nama Batavia merupakan kota yang cukup ramai penduduk era VOC, persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.

Museum ini merupakan bekas pemakaman umum bagi orang-orang asing yang tinggal di Batavia.

Pada awalnya, pemakaman ini dibangun dengan luas 5,5 hektare.

Makam-makam di sana pindahan dari pemakaman di dekat Gereja Portugis yang ada di lokasi yang kini dikenal sebagai Museum Wayang, Jakarta Kota.

Lantaran sudah tak mampu lagi menampung banyaknya jenazah, pemakaman yang sebelumnya di tengah kota, dipindahkan ke pinggiran Batavia, tepatnya di wilayah Tanah Abang.

Alasannya, saat itu bagi VOC pemakaman menjadi salah satu penyebab udara di Batavia tidak sehat dan menimbulkan penyakit.

Selain itu lokasi ini juga dinilai strategis karena berdekatan dengan aliran sungai Krukut yang saat itu dijadikan sebagai sarana transportasi.

Namun, pemakaman ini hanya bertahan sampai tahun 1974 saja.

Satu tahun setelahnya atau tepat pada 1975 seluruh jenazah dipindahkan.

Sebagian ada yang dibawa keluarga, sebagian lagi dimakamkan secara massal di beberapa TPU.

Semenjak jenazah dipindahkan, beberapa batu nisan pun ditata ulang kembali di lahan tersebut.

Apa yang tersisa dijadikan sebagai koleksi Museum Taman Prasasti.

Pada 9 Juli 1977, museum ini diresmikan oleh Gubernur Jakarta saat itu, Bapak Ali Sadikin.

Koleksi

Salah satu koleksi di Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.
Salah satu koleksi di Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat. (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Museum ini memiliki banyak sekali koleksi prasasti nisan kuno dari masa lampau.

Di antaranya adalah prasasti nisan yang dibuat dari material batu andesit pada tahun 1600an, hingga tahun 1800an.

Adapula prasasti nisan dari batu marmer yang dibuat tahun 1800an hingga 1900an.

Namun selain itu, ada beberapa koleksi unggulan dari museum ini.

Di antaranya nisan dari makam tokoh-tokoh terkenal yang dahulu dimakamkan di lokasi itu.

1. H.F Roll

H.F Roll merupakan pencetus dan pendiri STOVIA (School of Opleiding van Indische Artsen).

STOVIA merupakan Sekolah Tinggi Dokter Indonesia yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Prasasti nisan dari H.F Roll kini terdapat di Museum Taman Prasasti.

2. Lady Raffles

Nisan Olivia Raffles, istri Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Raffles yang menjadi salah sati koleksi di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. Jenazah Lady Raffles itu sudah dipindahkan dari sana dan hanya tersisa makamnya.
Nisan Olivia Raffles, istri Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles yang menjadi salah sati koleksi di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. Jenazah Lady Raffles itu sudah dipindahkan dari sana dan hanya tersisa makamnya. (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Koleksi lainnya dari museum ini adalah prasasti nisan Lady Raffles.

Lady Raffles merupakan  istri pertama Gubernur Jendral Inggris yang juga salah satu pendiri Singapura Sir Thomas Stamford Raffles.

Lady Raffles memiliki nama asli Olivia Mariamne Raffles.

Selama menjadi istri gubernur, Olivia turut mengadakan perubahan sosial tertentu dalam kapasitasnya sebagai pendamping penguasa tertinggi di Jawa pada saat itu.

Kala itu, ia menikah dengan tuan Raffles sebelum berlayar ke Penang.

Usianya terpaut 10 tahun lebih tua dari suaminya.

Dikisahkan, ia meninggal pada November 1814 dalam usia 43 tahun karena penyakit yang dideritanya.

Ia berpesan, ingin dimakamkan sebelah makam sahabatnya yaitu Jhon Casper Layden.

Raffles pun juga membangun tugu kenangan untuk mendiang istrinya di Kebun Raya Bogor.

Semasa hidupnya, ia sangat mencintai tumbuh-tumbuhan dan merupakan salah satu penggagas pembangunan Kebun Raya Bogor.

Saat ini, prasasti nisal Lady Raffles diberi pagar setinggi pinggul orang dewasa.

Nisannya, juga berwarna putih dan berukuran besar.

Letaknya, tepat bersebrangan dengan lokasi Kantor Wali Kota Jakarta Pusat.

3. Peti Jenazah Presiden dan Wakil Presiden Pertama

Peti jenazah yang pernah mengantarkan jenazah Bung Karno dan Bung Hatta menjadi salah satu koleksi di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat.
Peti jenazah yang pernah mengantarkan jenazah Bung Karno dan Bung Hatta menjadi salah satu koleksi di Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Selain terdapat nisan kuno dengan berbagai bahasa asing, Museum Taman Prasasti juga memiliki koleksi peti jenazah.

Ada 2 peti jenazah yang dipamerkan, yang mana peti ini merupakan peti yang dahulu digunakan untuk mengantarkan jenazah Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta.

Kedua peti tersebut berada tak jauh dari area pintu masuk museum.

Saat memasuki Museum Taman Prasasti, kamu akan menemukan sebuah kanopi besi dengan dua buah peti jenazah di bawahnya.

Peti jenazah tersebut, dilindungi oleh sebuah kotak kaca.

Dahulu, peti milik Bung Karno ini telah mengantarkan jenazah Presiden pertama RI itu dari RSPAD Gatot Subroto menuju ke Wisma Yaso.

Sementara peti milik Bung Hatta, dahulu digunakan untuk mengantarkan jenazah Bung Hatta ke TPU Tanah Kusir.

4. Marius Hulswit

Hulswit adalah orang dibalik perancangan Gereja Katedral, gereja termegah di Jakarta serta bangunan kuno di Batavia dan Surabaya.

Hal ini dibuktikan oleh adanya prasasti batu pualam putih di dinding pintu utama Katedral yang bertuliskan kalimat dalam bahasa latin.

"Marius Hulswit architectus erexit me 1899-1901" yang artinya Aku didirikan oleh Arsitek Marius Hulswit 1899-1901.

5. Monumen JJ. Perie

Mayor Jenderal Johan Jacob, Perrie, Komandan I Groote Militaire Afdeeling (Devisi Militer Besar) di Jawa.

Selama karirnya dengan militer, dia mendapatkan gelar bangsawan dan berunding dengan orde 4 dari militaire willems-orde (Military order of William), kehormatan tertua dan tertinggi dari kerajaan Belanda.

Penerima beberapa penghargaan semasa hidupnya Mayor Jenderal Perie juga dianugerahi Order of the Lion Belanda.

6. Patung Crying Lady

Patung Crying Lady ini dibuat untuk merefleksikan penderitaan seorang pengantin baru yang ditinggal pergi suaminya karena meninggal akibat wabah malaria di Batavia. Patung ini salah satu koleksi Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat.
Patung Crying Lady ini dibuat untuk merefleksikan penderitaan seorang pengantin baru yang ditinggal pergi suaminya karena meninggal akibat wabah malaria di Batavia. Patung ini salah satu koleksi Museum Taman Prasasti, Jakarta Pusat. (TribunJakarta.com/Pebby Ade Liana)

Patung ini konon dibuat untuk merefleksikan penderitaan seorang pengantin baru yang ditinggal pergi suaminya karena meninggal akibat wabah malaria di Batavia.

Karena merasa sangat kehilangan, akhirnya sang istri mengakhiri hidupnya. Keluarga memesan patung tersebut dari pemahat terkenal bernama Antonio Carminati dari Kota Milan, Italia agar siapapun yang berkunjung ke makam ini bisa merasakan kesedihannya.

Waktu Operasional

Museum ini dibuka setiap hari Selasa-Minggu dengan harga tiket masuk Rp 5000 untuk dewasa, Rp 3000 untuk Mahasiswa Rp 2000 untuk anak-anak.

Rute

Museum ini terletak di dekat Kantor Wali Kota Jakarta Pusat.

Untuk menuju ke sini, lokasinya tidak jauh dari Monas.

Rute yang paling mudah ialah lewat Museum Nasional. Tak jauh dari situ ada sebuah jalan menuju Jalan Abdul Muis.

Berjalan kaki sekitar 10 menit kamu sudah bisa sampai di lokasi tujuan.

Kamu bisa menggunakan bus Transjakarta sebagai salah satu pilihan transportasi ketika ingin menuju ke sana.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved