Asal Nama Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan

Bila menuju kawasan Depok melalui Pasar Minggu, kita akan melintasi wilayah Kecamatan Jagakarsa di Jakarta Selatan.

Editor: Yogi Gustaman
TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS
Tampak depan area makam Pangeran Jagakarsa di Gang Kramat di Jalan Belimbing, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Selasa (8/12/2020). 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Satrio Sarwo Trengginas

TRIBUNJAKARTA.COM, JAGAKARSANama Kecamatan Jagakarsa di Jakarta Selatan ternyata memiliki sejarah panjang yang dipercayai warga setempat.

Nama itu berasal dari sosok pangeran terkemuka yang kini bersemayam di Gang Keramat.

Menurut warga asli Jagakarsa, Tamin, kecamatan Jagakarsa berasal dari nama seorang Pangeran bernama Pangeran Jagakarsa Surowinangun bergelar Syeikh Jaga Raksa.

Pria yang sekaligus juru kunci makam Jagakarsa tersebut mengisahkan Pangeran Jagakarsa dikirim ke Sunda Kelapa tahun 1505 oleh Kerajaan Mataram di Demak atas permintaan Sunan Gunung Jati.

Ia diperintahkan untuk melindungi Tanah Jawa di Sunda Kelapa dari serangan Portugis.

Bila tidak dilindungi, Portugis dipastikan dapat melenggang masuk ke sana.

"Wilayah Jagakarsa dan sekitarnya itu masih hutan jati dulunya. Beliau dikirim ke sini tahun 1505 tujuan pertamanya untuk mengusir Portugis. Kedua untuk mengislamkan utara Jawa. Karena utara itu jalur pelabuhan yang strategis," ungkapnya kepada TribunJakarta.com.

Sedulur Papat Limo Pancer

Dalam upaya melindungi wilayah itu, Pangeran Jagakarsa membentuk benteng dengan empat titik yang disebut Sedulur Papat Limo Pancer.

Menurut cerita warga setempat sekaligus juru kunci makam Pangeran Jagakarsa, Tamin, Pangeran Jagakarsa memerintahkan empat anak buahnya untuk menjaga wilayah Jagakarsa dari serangan Portugis.

Syeikh Hwia Dathuk Kuningan Pakunegoro menjaga Kampung Ciganjur. Sedangkan di wilayah Kampung Kandang atau Ragunan, Pangeranmemercayakannya kepada Syeikhona Wijaya Sakti atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Jaya.

Baca juga: Kampung Bali di Bekasi

Baca juga: Mengenal Nama Jalan Haji Nawi Raya

Baca juga: Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat

Menurut Tamin, nama Kampung Kandang berasal dari ribuan kuda perang yang ditambatkan di daerah itu.

"Kampung kandang maksudnya itu kandang kuda. Karena di sana tempatnya datar seperti padang rumput dan dialiri dua kali. Kali baru dan kali Krukut. Jadi, cukup nyaman," tambahnya.

Di wilayah Kampung Lenteng Agung, lanjut Tamin, dijaga oleh Syeikh Zakaria. Nyi Ross Kembang Pandan Wangi menjaga wilayah Kampung Setu atau yang kini dikenal dengan Srengseng Sawah.

Sementara Pangeran Jagakarsa yang mengkomandoi keempat kampung itu.

"Arti dari Sedulur Papat Limo Pancer itu empat berpusat dalam satu komando," ungkap Tamin. 

Menurut Tamin, kini keempat anak buah dari Pangeran Jagakarsa dimakamkan di masing-masing kampung yand dijaganya.

Bangun kerajaan

Makam Pangeran Jagakarsa berada di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, berdekatan dengan perkampungan dan pemakaman wakaf. 

Jalan menuju makam itu bernama Gang Kramat di Jalan Belimbing 1, sesuai dengan sosok pangeran yang dikeramatkan. 

Di area makam itu lah, lanjut Tamin, dulunya dibangun sebuah kerajaan semacam Giri Kedaton dengan konstruksinya berbahan kayu jati.

Makam Pangeran Jagakarsa ditutup dengan kain mori hijau di Gang Keramat di Jalan Belimbing, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Selasa (8/12/2020)
Makam Pangeran Jagakarsa ditutup dengan kain mori hijau di Gang Keramat di Jalan Belimbing, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Selasa (8/12/2020) (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

Hutan jati di wilayah itu dibabat kemudian kayu-kayu gelondongan dibawa ke daerah selatan yang kini bernama Pangkalan Jati.

"Kayu gelondongan hasil babat alas (hutan) itu dibawa ke kampung Pangkalan Jati. Di sana diolah menjadi papan, tiang soko guru, balok. Kemudian balik lagi ke sini untuk membangun pendopo atau padepokan dan Giri Kedaton," jelasnya.

Keluarga Pangeran Jagakarsa

Pangeran Jagakarsa memiliki empat anak bernama Raden Mas Mochammad Kahfi bergelar Syeikh Datuk Kahfi, Raden Arya Kemang Yudhanegoro, Raden SukmaJaya dan Raden Panji Sukma.

Anaknya Mochammad Kahfi kini menjadi nama jalan yang membelah permukiman di wilayah Kecamatan Jagakarsa.

Saat menggantikan ayahnya, cerita Tamin, Mochammad Kahfi melakukan pemekaran wilayah Jagakarsa. Dari kampung berubah menjadi kadipaten.

Namun, saat Kedaton dibakar oleh VOC, Mochammad Kahfi bersama Nyimas RatuJaya (ibunya), Sukma Jaya dan Panji Sukma menyingkir ke daerah selatan di Rawageni.

Kondisi saat ini

Saat ini kondisi makam Pangeran Jagakarsa dijaga oleh Tamin, juru kunci ke-12 makam.

Para pendahulunya sebagian dimakamkan di dekat makam Pangeran Jagakarsa. Sebagian lainnya berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Wakaf dekat Kantor Kelurahan Jagakarsa.

Para peziarah dari berbagai daerah sering singgah ke Makam Pangeran Jagakarsa. Di area makam itu kerap diadakan sejumlah kegiatan upacara peringatan.

Juru kunci makam Pangeran Jagakarsa, Tamin di depan makam pada Selasa (8/12/2020).
Juru kunci makam Pangeran Jagakarsa, Tamin di depan makam pada Selasa (8/12/2020). (TRIBUNJAKARTA.COM/SATRIO SARWO TRENGGINAS)

"Upacara tahunan kita tetap bikin. Di Betawi namanya Sedekah Bumi momen untuk menyambut Tahun Baru Hijriyah. Upacara yang kedua untuk acara Maulid Nabi," ungkapnya.

Biasanya, para peziarah yang datang untuk Tabaruk atau mencari berkah dunia dan akhirat.

Namun, tidak bisa sembarang orang bisa melakukan tabaruk di makam itu. Bila para peziarah tidak diajarkan oleh guru, Tamin yang mendampingi mereka berziarah di sana.

Tamin mengetahui riwayat Pangeran Jagakarsa dari sumber Manakib yang dipegangnya secara turun temurun.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved