Mengenal Sosok Dr Sumy Hastry Purwanti, Srikandi Forensik Indonesia

Wanita polisi yang kini berpangkat Kombes ini hampir terlibat dalam aktivitas forensik kasus-kasus besar di Indonesia

Editor: Yogi Gustaman
TribunJakarta.com/Bima Putra
Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati Kombes Sumy Hastry Purwanti saat memberi keterangan di Jakarta Timur, Jumat (28/2/2020). 

"Tulangnya bagus, enggak ada tanda kekerasan. Kalau ada tanda kekerasan akibat senjata tajam pasti terlihat di tulangnya," ujar dokter Hastry di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jumat (28/2/2020).

Ia menjelaskan perihal kepala korban terlepas karena proses pembusukan jasad di dalam air lebih cepat dibanding di darat.

Secara medis, tubuh bagian kepala yang paling mudah lepas saat seseorang mengalami kecelakaan atau penganiayaan.

Benturan-benturan saat jasad terseret arus dalam parit ikut memengaruhi kondisi Yusuf yang ditemukan tanpa kepala.

Sementara organ tubuh seperti jantung, hati, ginjal, usus, lambung, dan paru yang hilang, dokter Hastry menyebut semua itu membusuk.

Untuk kasus jasad orang dewasa yang ditemukan di darat, dalam waktu 5 hari setelah meninggal proses pembusukan organ dimulai.

"Kalau anak lebih cepat (proses pembusukannya). Karena jaringannya masih lunak, tulangnya juga masih lunak. Proses pembusukan lebih cepat," lanjut Hastry.

Proses pembusukan, benturan saat terseret, serta dugaan jasad digerogoti binatang seperti tikus dan biawak jadi sebab Yusuf tewas mengenaskan.

Hasil autopsi berupa visum et repertum ini sudah diserahkan ke penyidik Satreskrim Polresta Samarinda sebagai alat bukti kasus Yusuf.

Penyidik Satreskrim Polresta Samarinda menetapkan dua wanita M dan TSY sebagai tersangka. Keduanya pengajar dan pengasuh PAUD tempat Yusuf belajar.

Kedua pelaku dianggap lalai sehingga mengakibatkan korban, dalam hal ini Yusuf, meninggal dunia. Mereka dijerat Pasal 359 dengan acaman penjara di atas 5 tahun.

Lantaran tak dijaga, Yusuf terjatuh di sungai yang berada di depan PAUD. Setelah hilang 16 hari, korban ditemukan tanpa kepala.

"Merekalah yang bertanggung jawab karena setelah pengawasan ini diserahkan kepada mereka ya," tegas Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu, Ipda M Ridwan, Selasa (21/1/2020).

Karya Tulis

- Dari Tragedi Bali Hingga Tragedi Sukhoi - Keberhasilan DVI Indonesia dalam Mengungkap Berbagai Kasus (2013). Buku ini terbit dalam dua bahasa

- Ilmu Kedokteran Forensik untuk Kepentingan Penyidikan (2014)

- Mengenal DNA - Populasi Batak, Jawa, Dayak, Toraja, dan Trunyan (2016)

- Kekerasan Pada Anak & Wanita Perspektif Ilmu Kedokteran Forensik (2017)

Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved