Mengenal Sosok Dr Sumy Hastry Purwanti, Srikandi Forensik Indonesia

Wanita polisi yang kini berpangkat Kombes ini hampir terlibat dalam aktivitas forensik kasus-kasus besar di Indonesia

Editor: Yogi Gustaman
TribunJakarta.com/Bima Putra
Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati Kombes Sumy Hastry Purwanti saat memberi keterangan di Jakarta Timur, Jumat (28/2/2020). 

TRIBUNJAKARTA.COM - Nama dan gelarnya Dr. Sumy Hastry Purwanti, dr, DFM,SpF. Kini menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polri Prov. Awaloeddin Djamin Semarang.

Siapa tak kenal sosok dokter Hastry? Wanita polisi yang kini berpangkat Kombes ini hampir terlibat dalam aktivitas forensik kasus-kasus besar di Indonesia.

Wanita kelahiran Jakarta, 23 Agustus 1970, ini adalah satu-satunya doktor forensik di Asia. Soal pengalaman? Dia punya seabrek dari lokal sampai internasional.

Menurut arsip pemberitaan koran Kompas, 26 Agustus 2015, Sumy dijuluki sebagai Srikandi Forensik Indonesia.

Ketika mengikuti sebuah operasi di lokasi pembunuhan pada 2000 silam, Sumy yang masih mengenyam pendidikan Sekolah Perwira Polisi disarankan oleh Kasatreskrim Poltabes Semarang Ajun Komisaris Purwo Lelono fokus pada bidang forensik.

Apalagi, ketika itu belum ada doktor forensik perempuan di kepolisian. Hastry kemudian mengamini usulan seniornya itu.

Kini, banyak wanita polisi yang menjadi dokter forensik Polri yang mengikuti jejak dokter Hastry.

Sepak terjangnya sebagai dokter forensik tak perlu diragukan lagi. Ia hampir dilibatkan dalam kecelakaan pesawat di Indonesia.

Terbaru, dokter Hastry terlihat sebagai tim postmortem untuk mengidentifkasi body remains korban pesawat Sriwijaya Air SJ-182.

Menurut dia, dokter forensik tak hanya memeriksa mayat tapi juga korban yang hidup.

Dari sekian banyak pengalamannya selama mengautopsi mayat, ada satu yang membuatnya pernah deg-degan. Kala terlibat eksekusi mati Imam Samudra hingga Bali Nine.

Baca juga: Mengenal Jalan Kernolong di Senen, Jakpus dan Kerukunan Antar 2 Umat Beragama

Baca juga: Gado-gado Kertanegara Punya Pelanggan dari Prabowo dan Artis Ibu Kota, Berdiri Sejak 1987

Baca juga: Ini Asal Usul Nama Ragunan di Jakarta Selatan

Imam Samudra adalah pelaku Bom Bali 2002. Pria kelahiran Serang, Banten, ini dihukum mati di usia 39 tahun di Nusakambangan, 9 November 2008.

Sedangkan Bali Nine adalah sebutan yang diberikan media massa kepada sembilan orang Australia yang ditangkap pada 17 April 2005 di Bali, Indonesia.

Mereka menyelundupkan heroin seberat 8,2 kg dari Indonesia ke Australia.

Dua otak Bali Nine yang dieksekusi mati adalah Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Keduanya dieksekusi pada 29 April 2015 silam.

Dokter Hastry juga terlibat dalam eksekusi mati gembong narkoba Fredy Budiman.

"Saya yang pasang tanda di dada terpidana mati. Saya cek dulu letak jantungnya lalu pasang titik bidik. Awalnya gemetar juga, tapi saya harus kuat. Biasanya menolong orang sakit yang mau hidup, ini mengerjakan orang hidup yang akan ditembak mati. Tapi itulah tugas dan pengabdian kepada negara," ucap dokter Harsy kepada Tribun Jateng dalam wawancara 2016.

Tempo hari ketika viral penemuan jasad balita Yusuf Ahmad Ghazali (4) tanpa kepala di Samarinda, dokter Hastry diterjunkan untuk mengautopsinya.

Hasilnya, korban meninggal bukan dibunuh. Karena dokter Hastry tak menemukan tanda penganiayaan. Ini sekaligus meluruskan dugaan orang bahwa korban dibunuh.

Menurut dia, korban masuk ke dalam air masih hidup. Seluruh bagian tulang bocah yang hilang pada Jumat (22/11/2019) lalu ditemukan Minggu (8/12/2019) di parit dalam kondisi bagus.

"Tulangnya bagus, enggak ada tanda kekerasan. Kalau ada tanda kekerasan akibat senjata tajam pasti terlihat di tulangnya," ujar dokter Hastry di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jumat (28/2/2020).

Ia menjelaskan perihal kepala korban terlepas karena proses pembusukan jasad di dalam air lebih cepat dibanding di darat.

Secara medis, tubuh bagian kepala yang paling mudah lepas saat seseorang mengalami kecelakaan atau penganiayaan.

Benturan-benturan saat jasad terseret arus dalam parit ikut memengaruhi kondisi Yusuf yang ditemukan tanpa kepala.

Sementara organ tubuh seperti jantung, hati, ginjal, usus, lambung, dan paru yang hilang, dokter Hastry menyebut semua itu membusuk.

Untuk kasus jasad orang dewasa yang ditemukan di darat, dalam waktu 5 hari setelah meninggal proses pembusukan organ dimulai.

"Kalau anak lebih cepat (proses pembusukannya). Karena jaringannya masih lunak, tulangnya juga masih lunak. Proses pembusukan lebih cepat," lanjut Hastry.

Proses pembusukan, benturan saat terseret, serta dugaan jasad digerogoti binatang seperti tikus dan biawak jadi sebab Yusuf tewas mengenaskan.

Hasil autopsi berupa visum et repertum ini sudah diserahkan ke penyidik Satreskrim Polresta Samarinda sebagai alat bukti kasus Yusuf.

Penyidik Satreskrim Polresta Samarinda menetapkan dua wanita M dan TSY sebagai tersangka. Keduanya pengajar dan pengasuh PAUD tempat Yusuf belajar.

Kedua pelaku dianggap lalai sehingga mengakibatkan korban, dalam hal ini Yusuf, meninggal dunia. Mereka dijerat Pasal 359 dengan acaman penjara di atas 5 tahun.

Lantaran tak dijaga, Yusuf terjatuh di sungai yang berada di depan PAUD. Setelah hilang 16 hari, korban ditemukan tanpa kepala.

"Merekalah yang bertanggung jawab karena setelah pengawasan ini diserahkan kepada mereka ya," tegas Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu, Ipda M Ridwan, Selasa (21/1/2020).

Karya Tulis

- Dari Tragedi Bali Hingga Tragedi Sukhoi - Keberhasilan DVI Indonesia dalam Mengungkap Berbagai Kasus (2013). Buku ini terbit dalam dua bahasa

- Ilmu Kedokteran Forensik untuk Kepentingan Penyidikan (2014)

- Mengenal DNA - Populasi Batak, Jawa, Dayak, Toraja, dan Trunyan (2016)

- Kekerasan Pada Anak & Wanita Perspektif Ilmu Kedokteran Forensik (2017)

Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR
47 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved