Melihat Hok Lay Kiong, Kelenteng Berusia Ratusan Tahun di Bekasi

Kota Bekasi memiliki klenteng tertua bernama Klenteng Hok Lay Kiong di Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi

TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Kelenteng Hok Lay Kiong di Jalan kenari, Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi saat perayaan Imlek 2020 silam. 

Kelenteng Hok Lay Kiong secara resmi kata Roni, belum dijadikan sebagai bangunan cagar budaya. Tetapi, melihat sejarah perjalanan masa lampau, bangunan ini cukup laik.

"Secara resmi si belum ada, tapi karna Klenteng ini bagian dari sejarah dan peradaban masyarakat tionghoa Kota Bekasi saya rasa laik-laik aja dijadikan cagar budaya," jelas Ronny.

Saat ini, populasi masyarakat tionghoa di Kota Bekasi diperkiran mencapai 100 ribu jiwa. Mayoritas masyarkat tiongho Kota Bekasi bekerja sebagai wirausaha mesk beberapa berkarir di perusahaan.

Rutin Gelar Festival Cap Go Meh

Kelenteng Hok Lay Kiong setiap tahun menggelar acara tahun baru Imlek, puncaknya ada pada festival Cap Go Meh yang dilaksankan dua pekan dari tahun baru.

Arak-arakan budaya merupakan salah satu kegiatan yang paling dinanti, acara ini berlangsung meriah dengan dibanjiri ribuan peserta dan warga yang antusias menonton di sepanjang rute.

Adapun rute arak-arak dimulai dari Kelenteng Hok Lay Kiong, lalu berjalan ke Jalan RA. Kartini, masuk ke Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan KH. Agus Salim. 

Dari situ, ribuan peserta jalan kaki menuju Jalan Baru Pejuangan Jembatan Besi Rumah Duka untuk selanjutnya masuk ke Jalan Perjuangan arah Stasiun Bekasi. 

Setelah dari Stasiun Bekasi, peserta kembali masuk di Jalan Ir. Juanda Bulan-bulan lalu mengarah ke Pasar Proyek Bekasi Timur untuk selanjutnya ke Jalan Mayor Oking dan finis di Kelenteng Hok Lay Kiong

"Membentuk angka 8, maknanya saya kurang tahu persis tapi yang pasti angka 8 itu bagus sudah jadi tradisikan, 8 enggak ada yang terbuka," jelas dia.

Perayaan Cap Go Meh diikuti kelompok warga etnis tionghoa yang menampikan pertunjukan mulai dari drum band, reog, egrang, ondel-ondel, barongsai dan kesenian budaya lainnya. 

Sepanjang arak-arakan, mereka jalan kaki sambil unjuk kebolehan di hadapan warga yang antusias menonton di pinggir jala yang menjadi rute mereka. 

"Cap Go Meh itu hanya perayaan saja bukan ritual agama, penutupan dari masa Tahun Baru Imlek, tidak ada ritual agama hanya berdoa bersama buat kelancaran acara kita," jelas dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved