Melihat Hok Lay Kiong, Kelenteng Berusia Ratusan Tahun di Bekasi

Kota Bekasi memiliki klenteng tertua bernama Klenteng Hok Lay Kiong di Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi

TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar
Kelenteng Hok Lay Kiong di Jalan kenari, Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi saat perayaan Imlek 2020 silam. 

Laporan Wartawan TribunJakarta.com, Yusuf Bachtiar

TRIBUNJAKARTA.COM  BEKASI TIMUR - Kota Bekasi memiliki klenteng tertua bernama Klenteng Hok Lay Kiong.

Klenteng ini terletak di Jalan Kenari 1 Nomor 1, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.

Kelenteng tersebut saat ini dikelola oleh Yayasan bernama Pancaran Tridharma, pengurusnya merupakan warga etnis tionghoa yang sudah turun temurun tinggal mendiami wilayah Bekasi.

Ketua Yayasan Pancaran Tridharma, Ronny Hermawan, mengatakan, tidak ada catatan sejarah secara formal yang mengabadikan berdirinya kelenteng tersebut.

Namun, berdasarkan infromasi dari kekek moyang warga Tionghoa Bekasi. Kelenteng Hok Lay Kiong sudah berdiri sejak ratusan tahun silam.

"Kelenteng ini merupakan kelenteng tertua dan satu-satunya Klenteng di Kota Bekasi," kata Ronny saat dikonfirmasi, Senin (1/2/2021).

Ronny menjelaskan, akar sejarah warga tionghoa Bekasi tidak lepas dari gelombang migrasi warga tionghoa yang mendiami Jakarta atau Batavia pada saat itu.

Pada tahun 1700-an, warga tionghoa melakukan migrasi ke sejumlah wilayah di sekitar Batavia seperti Tangerang, dan Bekasi.

"Karena dahulu masyarakat tionghoa hidup tidak jauh dari pelabuhan, awalnya mereka bermukim di Jakarta kemudian menyebar disekitar Jakarta seperti Bekasi," ucapnya.

Dari situ, awal mula peradaban warga etnis tionghoa mulai berkembang di Bekasi. Mereka membuat pemukiman baru, wilayah Bekasi yang saat itu masih terpencil mulai digarap menjadi lahan-lahan pertanian.

Hingga kemudian, peradaban kian berkembang dan dibuatlah Kelenteng Hok Lay Kiong sebagai tempat ibadah, tempat berkumpul sekaligus tempat bersilaturahmi warga etnis tionghoa yang mendiami tanah Bekasi.

"Kelenteng ini dibuat untuk kebutuhan rohani warga pada saat itu, karena peradaban warga etnis tionghoa mulai banyak di Bekasi, kelenteng ini merupakan pertama dan satu-satu di Kota Bekasi sampai saat ini dan terus dirawat," kata Ronny.

Baca juga: Mengenal Sosok H Mangkuto, Perintis Restoran Soto Padang di Jakarta

Baca juga: Lawakan Komika RR Disebut Masuk Pencemaran, Ini Kata Kuasa Hukum Soal Langkah Ruben Onsu Selanjutnya

Baca juga: Suara Bergetar, Istri Maheer At-Thuwailibi Ungkap Kondisi Suami di Pertemuan Terakhir: Sudah Kurus

Seiring berkembangnya zaman, warga keturunan tionghoa juga mulai menjajaki dunia usaha.

Kawasan Pasar Proyek merupakan area di mana roda ekonomi berjalan, dibukanya sejumlah usaha seperti warung-warung kecil yang terus tumbuh hingga sekarang.

Nama Kelenteng Hok Lay Kiong juga memiliki arti yang sarat akan makna yaitu, gerbang rejeki bagi warga etnis tionghoa.

"Kita rawat, Kita pertahankan, Kita jaga bangunanya supaya bisa menjadi landmark Kota Bekasi," ucapnya.

Awalnya bangunan kelenteng tidak seluas saat ini, hanya ada satu patung dewa untuk sembahyang yakni, Dewa Hian Thian Siang Tee yang biasa disebut dewa utama atau dewa tuan rumah.

"Sekarang luas bangunan kelenteng sudah diperluas menjadi 2000 meter persegi dan bisa menampung ribuan orang," jelas dia.

Kelenteng Hok Lay Kiong di Jalan kenari, Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi saat perayaan Imlek 2020 silam.
Kelenteng Hok Lay Kiong di Jalan kenari, Kecamatan Bekasi Timur Kota Bekasi saat perayaan Imlek 2020 silam. (TribunJakarta.com/Yusuf Bachtiar)

Selain itu, bukan hanya dewa utama yang ada di kelenteng saat ini, sejumlah patung dewa juga telah ditambah untuk sembahyang seperti Dewa Tjay Sen Loya, Kwan Im Posat, Kwan Seng Tekun, Hok Tek Ceng Sin dan sejumlah patung dewa lainnya.

Kelenteng Hok Lay Kiong secara resmi kata Roni, belum dijadikan sebagai bangunan cagar budaya. Tetapi, melihat sejarah perjalanan masa lampau, bangunan ini cukup laik.

"Secara resmi si belum ada, tapi karna Klenteng ini bagian dari sejarah dan peradaban masyarakat tionghoa Kota Bekasi saya rasa laik-laik aja dijadikan cagar budaya," jelas Ronny.

Saat ini, populasi masyarakat tionghoa di Kota Bekasi diperkiran mencapai 100 ribu jiwa. Mayoritas masyarkat tiongho Kota Bekasi bekerja sebagai wirausaha mesk beberapa berkarir di perusahaan.

Rutin Gelar Festival Cap Go Meh

Kelenteng Hok Lay Kiong setiap tahun menggelar acara tahun baru Imlek, puncaknya ada pada festival Cap Go Meh yang dilaksankan dua pekan dari tahun baru.

Arak-arakan budaya merupakan salah satu kegiatan yang paling dinanti, acara ini berlangsung meriah dengan dibanjiri ribuan peserta dan warga yang antusias menonton di sepanjang rute.

Adapun rute arak-arak dimulai dari Kelenteng Hok Lay Kiong, lalu berjalan ke Jalan RA. Kartini, masuk ke Jalan Ir. H. Juanda dan Jalan KH. Agus Salim. 

Dari situ, ribuan peserta jalan kaki menuju Jalan Baru Pejuangan Jembatan Besi Rumah Duka untuk selanjutnya masuk ke Jalan Perjuangan arah Stasiun Bekasi. 

Setelah dari Stasiun Bekasi, peserta kembali masuk di Jalan Ir. Juanda Bulan-bulan lalu mengarah ke Pasar Proyek Bekasi Timur untuk selanjutnya ke Jalan Mayor Oking dan finis di Kelenteng Hok Lay Kiong

"Membentuk angka 8, maknanya saya kurang tahu persis tapi yang pasti angka 8 itu bagus sudah jadi tradisikan, 8 enggak ada yang terbuka," jelas dia.

Perayaan Cap Go Meh diikuti kelompok warga etnis tionghoa yang menampikan pertunjukan mulai dari drum band, reog, egrang, ondel-ondel, barongsai dan kesenian budaya lainnya. 

Sepanjang arak-arakan, mereka jalan kaki sambil unjuk kebolehan di hadapan warga yang antusias menonton di pinggir jala yang menjadi rute mereka. 

"Cap Go Meh itu hanya perayaan saja bukan ritual agama, penutupan dari masa Tahun Baru Imlek, tidak ada ritual agama hanya berdoa bersama buat kelancaran acara kita," jelas dia.

Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved